Status Dana Sumbangan Maulid Atau PHBI lainnya.

WEBNUSHARE.COM - Deskripsi Masalah Sudah maklum anggaran dana acara kegiatan maulid Nabi Muhammad SAW. Terkadang diperoleh dengan sumbangan suka rela. Sumbangan yang terkumpul bisa berupa uang, nasi, atau air mineral, bahkan berupa hewan seperti sapi kambing dan ayam.

Segenap warga masyarakat sangat antusias memberikan sumbangan acara semacam ini bahkan sering kali hasil sumbangan yang terkumpul melebihi anggaran yang di buat panitia. Sehingga, panitia menggunakan sisa sumbangan untuk kegiatan keagamaan lainya semacam acara Isra’ Mi’raj dan peringantan Nuzul Al-Qur’an, padahal pemberi sumbangan berniat untuk kepentingan kegiatan Maulid. Ada beberapa alasan panitia mengalihkan penggunaan saldo maulid.  Pertama, dana yang dibutuhkan sudah dianggap cukup. Kedua, untuk menarik sumbangan lagi pada acara kegiatan keagamaan berikutnya akan mengalami kesulitan atau setidaknya khawatir masyarakat keberatan. Sehingga panitia selaku pengelola dana tersebut memutuskan untuk menggunakan saldo tersebut. Ketiga, kegiatan lain tersebut masih terkandung nuansa syiar-syiar agama.

Bahkan ada pula sebagian panitia yang menggunakan dana tersebut untuk pembelian fasilitas masjid atau mushalla, apabila kegiatan maulid tersebut diselenggarakan atas nama masjid atau mushalla tertentu.

Image:slideshare.net

 PERTANYAAN :

1 . Apa status dana sumbangan maulid atau PHBI lainnya ?

2 . Apa status panitia Maulid, sebagai Nadhir, wakil atau semacamnya, dan apa hak/ kewajiban mereka

3 . Adakah ketentuan khusus terkait dengan pos anggaran di dalam penggunaan dana sumbangan?

4 . Apabila sumbangan Maulid masih tersisa, bolehkah digunakan untuk kepentingan lain, semisal kegiatan keagamaan, pembelian fasilitas mesjid atau mushalla penyelenggara maulid ?

JAWABAN :

1 . Perayaan maulid sejatinya adalah sebagai bungkus atau al-wasa’il yang substansi-(maqhashid)nya secara umum adalah pembacaan ayat suci Alquran, pembacaan salawat, pembelajaran sirah nabawiyah, nasyrul al-Ilm,  sedekah dan kebaikan lainnya. Tujuan utamanya adalah untuk mendekatkan umat dan menumbuhkan serta menggelorakan rasa cinta kepada Rasulullah saw. yang secara nyata dibuktikan dengan kepatuhan menjalankan ajaran-ajaran-Nya. Ketaatan kepada Rasulullah hakikatnya adalah ketaatan kepada Allah. Allah Swt berfirman:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (Qs. Al-Nisa [04]: 80)

Dengan demikian, bermaulid Nabi hakikatnya adalah upaya untuk mewujudkan kepatuhan menjalankan perintah Allah Swt dan Rasulullah Saw. Menyelenggarakan maulid Nabi dan membantu pelaksanaannya adalah bagian dari ekspresi cinta yang menggelora kepada Rasulullah saw. Maka, pemberian sumbangan oleh masyarakat kepada panitia dan penyelenggara maulid Nabi, baik yang diadakan oleh lembaga pendidikan maupun masyarakat,  merupakan bagian dari at-ta’awun ala al-birri wa at-taqwa. Sebagaimana firman Allah Swt.:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu  kepada Allah Swt sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Qs. Al-Maidah [06]: 02)

Sedangkan dana sumbangan yang dikumpulkan dan diterima panitia dan penyelenggara adalah “sedekah” yakni pemberian cuma-cuma, tanpa imbalan  kepada pihak yang membutuhkan dengan tujuan semata-mata mendapatkan pahala di akhirat kelak.

Dana yang telah terkumpul bukan menjadi milik panitia maupun penyelenggara, melainkan menjadi harta publik atau harta Allah (مال الله), yang diamanatkan kepada panitia dan penyelenggara untuk di-tasharrufkan (dibelanjakan) sesuai kemaslahatan penyelenggaraan maulid. Dari perspektif ini, dana untuk perayaan maulid ini mirip dengan harta wakaf.

2 . Panitia perayaan maulid yang dibentuk berdasarkan musyawarah mufakat berstatus sebagai wakil dari penyelenggara yang diberi amanat oleh masyarakat untuk mengumpulkan dana dan menggunakannya. Posisi mereka sama dengan amil zakat yang peran dan fungsinya sama dengan waliyyul yatim. Mereka wajib melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang diamanatkan kepada mereka dengan sebaik-baiknya, bermanfaat, bermartabat dan tidak melahirkan mafsadat,  baik menyangkut pelaksanaan acara maupun dalam membelanjakan dana. Allah berfirman :

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللهِ وَاللهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”(Qs. Al-Taubah [09]: 60)

Seorang ulama berkata:

إنما الصدقات للفقرآء و المساكين و العاملين عليها : أي السعاة و الجباة الذين يبعثهم الإمام لتحصيل الزكاة ، لأن الله سبحانه جوٌز العمل على الصدقات ، و هو بحكم النيابة عن المستحقين

“Zakat itu untuk orang-orang fakir, miskin dan para amil, yaitu orang yang berputar yang diutus oleh pemimpin untuk memperoleh harta zakat. Karena Allah Swt. Membolehkan untuk hal tersebut untuk mengambil sedekah (zakat), amil itu adalah mengganti posisi para orang-orang yang berhak”.

Imam al-Qurthuby menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa yang dimaksud al-amil dalam ayat ini mencakup sa’in (orang yang bertugas mengumpulkan harta) dan Jabin (orang yang menarik harta zakat) yang menjadi wakil Imam untuk menghasilkan dana zakat.  Al-Qurthubi mengatakan:

قوله تعالى : (و العاملين عليها) يعني السعاة و الجباة الذين يبعثهم الامام  لتحصيل الزكاة بالتوكيل على ذلك

“Adapun firman Allah “Dan amil…”, yang dimaksud adalah orang-orang yang berputar yang diutus untuk memperoleh harta zakat dengan cara perwakilan.”

Sebab itulah panitia dan penyelenggara sebagai wakil mustahiqqin, ia harus menggunakan dana yang terkumpul untuk kemaslahatan, sama dengan pemerintah sebagai wakil rakyat yang harus melahirkan kebijakan yang memaslahahkan umat, sebagai diyatakan dalam  Kaidah fikih bahwa :

تصرف الإمام على الرعية منوط بالمصلحة

“Kebijakan seorang pemimpin terhadap rakyat haruslah berpedoman kepada kemaslahatan”.

Umar Ra juga telah mencontohkan bagaimana cara menggunakan dana publik untuk kemaslahatan. Umar ra mengatakan:

إِنِّي أَنْزَلْتُ نَفْسِي مِنْ هَذَا الْمَال بِمَنْزِلَةِ وَلِيِّ الْيَتِيمِ، إِنِ اسْتَغْنَيْتُ اسْتَعْفَفْتُ، وَإِنِ افْتَقَرْتُ أَكَلْتُ بِالْمَعْرُوفِ، فَإِذَا أَيْسَرْتُ قَضَيْتُ

Umar Ibn Khattab berkata: Sesungguhnya aku memposisikan diriku pada harta ini seperti wali yatim, jika aku merasa cukup aku akan menjaga diriku (dari memakannya) jika aku butuh, aku akan makan dengan cara yang baik, jika aku sudah punya kelebihan harta, aku akan melunasinya”.

3 . Seperti disebut diatas,  dana sumbangan untuk Maulid dan hari besar islam lainnya, adalah dana publik yang dikumpulkan panitia dan penyelenggara sebagai Maka panitia dan penyelenggara, wajib menunaikan amanat itu dengan benar dan proporsional, sebagaimana Firman allah:

إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات الى  أهلها

Sesungguhnya Allah Swt menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya”. (Qs. Al-Nisa [04]: 58)

Keharusan menjalankan amanah dan larangan keras berkhianat juga ditegaskan dalam sabda Nabi:

 أد الأمانة الى من ائتمنك و لا تخن من خانك

“Berikanlah amanah kepada orang yang engkau percayai dan jangan mengkhianati orang yang mengkhianatimu”.

Sebab itulah dana yang dikumpulkan untuk maulid dan PHBI  harus digunakan sesuai dengan niat dan maksud para penyumbangnya sebagai pemberi amanah, yaitu untuk memenuhi segala kebutuhan dan kemaslahatan pelaksanaan perayaan maulid. Hal ini sesuai dengan  hadits riwayat Imam al-Bukhari:

إنما الأعمال بالنيات

“Sesungguhnya segala perbuatan tergantung dengan niat”.

dan juga ditegaskan dalam kaidah fikih :

الأمور بمقاصدها

“Perbuatan-perbuatan tergantung dengan tujuannya”.

Niat dan maksud pemberi wajib menjadi acuan pen-tasarrufan, sebagaimana kaidah ushuliyah yang disepakati oleh seluruh fuqaha:

شرط الواقف كنص الشارع

“Syaratnya seorang wakif seperti penegasan dari Syari (Alquran atau al-Sunnah)’”.

Kaidah ini menytakan bahwa seluruh pensyaratan  yang ditentukan oleh waqif (orang yang mewakafkan) dan orang yang semakna dengan waqif  statusnya sama dengan nash syari’ (Alquran dan al-sunnah), yakni wajib diikuti dan diamalkan menurut apa adanya.

4 . Apabila setelah pelaksanaan kegiatan dana bantuan itu masih tersisa, maka bisa digunakan untuk hal-hal yang sejalan dengan visi dan tujuan perayaan maulid, seperti mendanai pengajian dan kegiatan keagamaan, salawatan dan sejenisnya. Karena kegiatan-kegiatan seperti ini sejalan dengan visi dan tujuan perayaan maulid seperti tersebut diatas. Ini merupakan salah satu cabang masalah (furu’) dari kaidah :

العبرة في التصرفات للمقاصد و المعاني لا للالفاظ و المباني

“Yang diperhatikan dalam tasarruf adalah maqasid dan ma’ani-nya bukan lafal dan bentuknya”.

Yaitu bahwa yang diperhatikan dalam tasharruf adalah tujuan tasharruf dan substansinya, bukan teks dan formalitasnya. Dana sisa tersebut juga digunakan untuk kemaslahatan  lain yang sejalan dengan urf yang berlaku dalam masyarakat setempat, seperti untuk merehab mesjid, musholla dan membeli alat-alat untuk kepentingan sarana pendidikan dan ibadah.

REFRENSI :

1 . Al-Nisa [04]: 80.
2 . Al-Maidah [06]: 02.
3 . Al-Taubah [09]: 60.
4 . Sohih al-Bukhari, juz 01, hal 02.
5 . Al-Iqna’ fi halli alfadz abi Syujak, juz 02, hal 120.
6 . Hasyiyah al-Bujairami ala al-Khatib, juz 09, hal 176.
7 . I’anah al-Thalibin Ala Fath al-Muin, juz 03, hal 171
8 . Asna al-Matalib, juz 13, hal 36.
9 . Kifayah al-Akhyar Ala Ghayah al-Ikhtisar, juz 01, hal 306.
10 . Hawasyi al-Syarwani wa al-Ubbadi, juz 06, hal 326.
11 . Al-Mausuah al-Fiqhiyah al-Kuwaititah, juz 09, hal 260.
12 . Al-Asybah wa al-Nazair, juz 01, hal 22.
13 . Fath al-Mu’in Ala Qurrah al-Ain, 88.
14 . Tuhfah al-Muhtaj Syarh al-Minhaj, juz 20, hal 428.
15 . Nihayah al-Zain Syarah Qurrah al-Ain, juz 02, hal 27.
16 . Yas’alunaka fi al-Din Wa al-Hayah, juz 04, hal 52.
17 . Bughyah al-Mustarsyidin, hal 102.
18 . Kussyaf al-Qinna’ ala Matn al-Iqna’, juz 04, hal 293.

الاقناع في حل ألفاظ أبي شجاع | ج 2 ص 120

فإن ملك لاحتياج أو لثواب آخره فصدقة أيضاً

حاشية البجيرمي على الخطيب | ج 9 ص 176

والحاصل أنه إن ملك لأجل الثواب مع صيغة كان هبة وصدقة ، وإن ملك بقصد الإكرام مع صيغة كان هبة وهدية ، وإن ملك لا لأجل الثواب ولا الإكرام بصيغة كان هبة فقط ، وإن ملك لأجل الثواب من غير صيغة كان صدقة فقط ، وإن ملك لأجل الإكرام من غير صيغة كان هدية فقط فبين الثلاثة عموم وخصوص من وجه والكتاب هدية للمرسل إليه إلا إن شرط كتابة الجواب على ظهره ا هـ

إعانة الطالبين البكري الدمياطي | ج 3 ص 171

والحاصل أنه إن ملك لاجل الاحتياج أو لقصد الثواب مع صيغة، كان هبة وصدقة، وإن ملك بقصد الاكرام مع صيغة، كان هبة وهدية، وإن ملك لا لاجل الثواب ولا الاكرام بصيغة، كان هبة فقط

وإن ملك لاجل الاحتياج أو الثواب من غير صيغة، كان صدقة فقط، وإن ملك لاجل الاكرام من غير صيغة، كان هدية فقط

أسنى المطالب في شرح روض الطالب | ج 2 ص 478

و ثاني الأنواع (الصدقة وهي) تمليك (ما يعطى) بلا عوض (للفقير) عبارة الأصل للمحتاج (لثواب الآخرة) والتحقيق أن الحاجة غير معتبرة كما نبه عليه السبكي أخذا من كلام المجموع وغيره وقال إن كونها لمحتاج هو أظهر أنواع الصدقة، والغالب منها فلا مفهوم له قال ولو ملك شخصا لحاجته من غير استحضار ثواب الآخرة ينبغي أن يكون صدقة أيضا فينبغي الاقتصار على أحد الأمرين إما الحاجة، أو قصد ثواب الآخرة وتبعه الزركشي وغيره ويلزمهم أنه لو ملك غنيا من غير قصد ثواب الآخرة لا يكون صدقة وهو ظاهر.

كفاية الأخيار في حل غاية الإختصار | ج 1 ص 326

وكأن الفرق أن المقصود من الصدقة ثواب الآخرة وقد حصل فلا رجوع له مع الثواب بخلاف الهبة، ولو كان له على ولده دين فأبرأه فهل له أن يرجع؟ قال الرافعي: إن قلنا إن الإبراء تمليك رجع، وإن قلنا إسقاط فلا يرجع. قال النووي: ينبغي أن لا يرجع على التقديرين والله أعلم

حواشي الشرواني والعبادي | ج 6 ص 298

أما الهبة للجهة العامة فإن الغزالي جزم في الوجيز بالصحة وتوقف فيه الرافعي ثم قال ويجوز أن يقول الجهة العامة بمنزلة المسجد فيجوز تمليكها بالهبة كما يجوز الوقف عليها وحينئذ فيقبلها القاضي اه وقضية إلحاقه الهبة للجهة العامة بالوقف عليها في الصحة أن لا يشرط القبول

الموسوعة الفقهية الكويتية أكثر من 7000 صفحة | ج 9 ج 260

بيت المال لغةً : هو المكان المعدّ لحفظ المال ، خاصّاً كان أو عامّاً . وأمّا في الاصطلاح : فقد استعمل لفظ ” بيت مال المسلمين ، أو ” بيت مال اللّه ” في صدر الإسلام للدّلالة على المبنى والمكان الّذي تحفظ فيه الأموال العامّة للدّولة الإسلاميّة من المنقولات ، كالفيء وخمس الغنائم ونحوها ، إلى أن تصرف في وجوهها . ثمّ اكتفي بكلمة ” بيت المال ” للدّلالة على ذلك ، حتّى أصبح عند الإطلاق ينصرف إليه . وتطوّر لفظ ” بيت المال ” في العصور الإسلاميّة اللّاحقة إلى أن أصبح يطلق على الجهة الّتي تملك المال العامّ للمسلمين ، من النّقود والعروض والأراضي الإسلاميّة وغيرها . والمال العامّ هنا : هو كلّ مالٍ ثبتت عليه اليد في بلاد المسلمين ، ولم يتعيّن مالكه ، بل هو لهم جميعاً . قال القاضي الماورديّ والقاضي أبو يعلى : كلّ مالٍ استحقّه المسلمون ، ولم يتعيّن مالكه منهم ، فهو من حقوق بيت المال . ثمّ قال : وبيت المال عبارة عن الجهة لا عن المكان . أمّا خزائن الأموال الخاصّة للخليفة أو غيره فكانت تسمّى ” بيت مال الخاصّة

فتح المعين بشرح قرة العين بمهمات الدين | ص 353

فرع) ليس لولي أخذ شئ من مال موليه إن كان غنيا مطلقا، فإن كان فقيرا وانقطع بسببه عن كسبه: أخذ قدر نفقته، وإذا أيسر: لم يلزمه بدل ما أخذه قال الاسنوي: هذا في وصي وأمين، أما أب أو جد، فيأخذ قدر كفايته – اتفاقا – سواء الصحيح وغيره وقيس بولي اليتيم فيما ذكر: من جمع مالا لفك أسير، أي مثلا، فله إن كان فقيرا الاكل منه

تحفة المحتاج في شرح المنهاج | ج 20 ص 428

فرع ليس للولي أخذ شيء من مال موليه إن كان غنيا مطلقا فإن كان فقيرا وانقطع بسببه عن كسبه أخذ قدر نفقته عند الرافعي ورجح المصنف أنه يأخذ الأقل منها ومن أجرة مثله وإذا أيسر لم يلزمه بدل ما أخذه

قال الإسنوي هذا في وصي أو أمين أما أب أو جد فيأخذ قدر كفايته اتفاقا سواء الصحيح وغيره واعترض بأنه إن كان مكتسبا لا تجب نفقته ويرد بأن المعتمد أنه لا يكلف الكسب فإن فرض أنه اكتسب مالا يكفيه لزم فرعه تمام كفايته وحينئذ فغاية الأصل هنا أنه اكتسب دون كفايته فيلزم الولد تمامها فاتجه أن له أخذ كفايته البعض في مقابلة عمله والبعض لقرابته وقيس بولي اليتيم فيما ذكر من جمع مالا لفك أسر أي : مثلا فله إن كان فقيرا الأكل منه كذا قيل

نهاية الزين | ص 271

ولو شرط أي الواقف لملكه (شيئاً) كأن شرط أن لا يؤجر الوقف أصلاً، أو سنة، أو أن لا يؤجر من ذي شوكة، أو أن الموقوف عليه يسكن فيه بنفسه (اتبع) شرطه في غير حالة الضرورة، كسائر شروطه التي لم تخالف الشرع، وذلك لما فيه من وجود المصلحة. وخرج بغير حالة الضرورة ما لو لم يوجد إلاّ من لا يرغب فيه إلاّ على وجه مخالف لذلك، فيجوز لأن الظاهر أنه لا يريد تعطيل وقفه

إعانة الطالبين على حل ألفاظ فتح المعين | ج 3 ص 88

فرع ليس لولي أخذ شئ من مال موليه إن كان غنيا مطلقا، فإن كان فقيرا وانقطع بسببه عن كسبه: أخذ قدر نفقته، وإذا أيسر: لم يلزمه بدل ما أخذه. قال الاسنوي: هذا في وصي وأمين، أما أب أو جد، فيأخذ قدر كفايته – اتفاقا – سواء الصحيح وغيره. وقيس بولي اليتيم فيما ذكر: من جمع مالا لفك أسير، أي مثلا، فله إن كان فقيرا الاكل منه

يسألونك | ج 4 ص 52

زيادة التبرعات للمسجد عن حاجته

يقول السائل : إن لجنة المسجد عندهم جمعت تبرعات لإصلاح المسجد وقد زادت تلك التبرعات عن حاجة المسجد فكيف يتصرفون بها ؟ الجواب : إن الأصل في هذه التبرعات أن تصرف لذات المسجد الذي تم التبرع له لأن هذه الأموال صارت موقوفة على ذلك المسجد

بغية المسترشدين للسيد باعلوي الحضرمي | ص 102

مسألة: ب: يجوز للمقيم شراء عبد للمسجد ينتفع به لنحو نزح إن تعينت المصلحة في ذلك، إذ المدار كله من سائر الأولياء عليها، نعم لا نرى للقيم وجهاً في تزويج العبد المذكور كولي اليتيم إلا أن يبيعه بالمصلحة فيزوجه مشتريه ثم يرد للمسجد بنحو بيع مراعياً في ذلك المصلحة، ويجوز بل يندب للقيم أن يفعل ما يعتاد في المسجد من قهوة ودخون وغيرهما مما يرغب نحو المصلين، وإن لم يعتد قبل إذا زاد على عمارته

كشاف القناع عن متن الإقناع | ج 4 ص 293

وَ يَصِحُّ (بَيْعُ مَا فَضَلَ مِنْ نِجَارَةِ خَشَبِهِ خَشَبِهِ وَنُحَاتَتِهِ) أَيْ: الْمَوْقُوفِ لِمَا تَقَدَّمَ (وَلَوْ شَرَطَ) الْوَاقِفُ عَدَمَهُ أَيْ: الْبَيْعِ (إذَنْ) أَيْ: فِي الْحَالِ الَّتِي قُلْنَا يُبَاعُ فِيهِ (فَشَرْطٌ فَاسِدٌ) لِحَدِيثِ «مَا بَالُ أَقْوَامٍ يَشْتَرِطُونَ شُرُوطًا لَيْسَتْ فِي كِتَابِ اللَّهِ» إلَى آخِرِهِ

وَ حَيْثُ يُبَاعُ الْوَقْفُ فَإِنَّهُ (يُصْرَفُ ثَمَنُهُ فِي مِثْلِهِ) ؛ لِأَنَّ فِي إقَامَةِ الْبَدَلِ مَقَامَهُ تَأْبِيدًا لَهُ، وَتَحْقِيقًا لِلْمَقْصُودِ فَتَعَيَّنَ وُجُوبُهُ (أَوْ بَعْضُ مِثْلِهِ) إنْ لَمْ يُمْكِنْ فِي مِثْلِهِ، وَيُصْرَفُ فِي جِهَتِهِ (وَهِيَ مَصْرِفُهُ) لِامْتِنَاعِ تَغْيِيرِ الْمَصْرِفِ مَعَ إمْكَانِ مُرَاعَاتِهِ

فَإِنْ تَعَطَّلَتْ جِهَةُ الْوَقْفِ الَّتِي عَيَّنَهَا الْوَاقِفُ (صُرِفَ فِي جِهَةٍ مِثْلِهَا فَإِذَا وَقَفَ عَلَى الْغُزَاةِ فِي مَكَان فَتَعَطَّلَ فِيهِ الْغَزْوُ صُرِفَ) الْبَدَلُ (إلَى غَيْرِهِمْ مِنْ الْغُزَاةِ فِي مَكَان آخَرَ كَمَا سَيَأْتِي قَرِيبًا) تَحْصِيلًا لِغَرَضِ الْوَاقِفِ فِي الْجُمْلَةِ حَسَبَ الْإِمْكَانِ

وَيَجُوزُ (نَقْلُ آلَةِ الْمَسْجِدِ الَّذِي يَجُوزُ بَيْعُهُ) لِخَرَابِهِ أَوْ خَرَابِ مَحَلَّتِهِ أَوْ قَذَرِ مَحَلِّهِ (وَ) نَقْلُ (أَنْقَاضِهِ إلَى مِثْلِهِ إنْ احْتَاجَهَا) مِثْلُهُ وَاحْتَجَّ الْإِمَامُ بِأَنَّ ابْنَ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – ” قَدْ حَوَّلَ مَسْجِدَ الْجَامِعِ مِنْ التَّمَّارِينَ أَيْ: بِالْكُوفَةِ ” (وَهُوَ) أَيْ: نَقْلُ آلَاتِهِ، وَأَنْقَاضِهِ إلَى مِثْلِهِ (أَوْلَى مِنْ بَيْعِهِ) لِبَقَاءِ الِانْتِفَاعِ مِنْ غَيْرِ خَلَلٍ فِيهِ، وَعُلِمَ مِنْ قَوْلِهِ ” إلَى مِثْلِهِ أَنَّهُ لَا يُعَمَّرُ بِآلَاتِ الْمَسْجِدِ مَدْرَسَةٌ وَلَا رِبَاطٌ وَلَا بِئْرٌ وَلَا حَوْضٌ وَلَا قَنْطَرَةٌ وَكَذَا آلَاتُ كُلِّ وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ الْأَمْكِنَةِ لَا يُعَمَّرُ بِهَا مَا عَدَاهُ؛ لِأَنَّ جَعْلَهَا فِي مِثْلِ الْعَيْنِ مُمْكِنٌ فَتَعَيَّنَ لِمَا تَقَدَّمَ قَالَهُ الْحَارِثِيُّ (وَيَصِيرُ حُكْمُ الْمَسْجِدِ) بَعْدَ بَيْعِهِ (لِلثَّانِي) الَّذِي اشْتَرَى بَدَلَهُ، وَأَمَّا إذَا نُقِلَتْ آلَتُهُ مِنْ غَيْرِ بَيْعٍ فَالْبُقْعَةُ بَاقِيَةٌ عَلَى أَنَّهَا مَسْجِدٌ قَالَ حَرْبٌ: قُلْت: لِأَحْمَدَ رَجُلٌ بَنَى مَسْجِدًا فَأَذَّنَ فِيهِ ثُمَّ قَلَعُوا هَذَا الْمَسْجِدَ، وَبَنَوْا مَسْجِدًا آخَرَ فِي مَكَان آخَرَ، وَنَقَلُوا خَشَبَ هَذَا الْمَسْجِدِ الْعَتِيقِ إلَى ذَلِكَ الْمَسْجِدِ قَالَ: يَرُمُّوا هَذَا الْمَسْجِدَ الْآخَرَ الْعَتِيقَ قَالَ الْحَارِثِيُّ: فَلَمْ يَمْنَعْ النَّقْلُ مَنْعَ الْبَيْعِ، وَإِخْرَاجَ الْبُقْعَةِ عَنْ كَوْنِهَا مَسْجِدًا

Dowload : Google Drive.

Sumber : RUMUSAN HASIL BAHTSUL MASAIL NASIONAL PUTRA DALAM RANGKA MEMPERINGATI HAUL MAJEMMUK PARA MASYAIKH 1440 H/2019 M Di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Sumberejo Situbondo Jawa Timur.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url