Image:detik.com
Sebelumnya kabar meninggalnya istri Ali Yafie beredar di media sosial, whatsapp. Berikut isi pesan tersebut.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah dipanggil ke haribaan Allah, Ny. Hj. Aisyah Umar, istri KH. Ali Yafie, Jumat 24 Januari 2020, pukul 03.22 WIB di RS Bintaro Permai. Info dari Bang Helmi Ali, sang putra. Semoga almarhumah husnul khotimah, diampuni segala dosa dan khilafnya. Lahal fatihah. Semoga keluarga yang ditinggal diberikan pula kesabaran, ketabahan, dan tawakkal."
Sekjen MUI Anwar Abbas mengatakan, pihaknya telah mendengar kabar wafatnya Aisyah dan mengucapkan rasa duka cita atas kepergian istri mantan ketua MUI tersebut.
"Saya dengar iya. Sekarang saya (kebetulan) sedang di Melbourne," katanya saat dikonfirmasi Okezone, Jumat (24/1/2020).
Lebih lanjut mewakili MUI, Anwar mengucapkan belasungkawanya untuk wafatnya Aisyah.
"Dewan Pimpinan MUI menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya Ibu Hj. Aisyah Umar istri dari Bapak Prof. Dr. KH Ali yafie. Dengan harapan semoga Allah SWT menerima semua amal ibadahnya. Aamiin," kata Anwar.
Riwayat Hidup
Semasa hidupnya, Puang Isa telah mendampingi Puang Yafie, selama 76 tahun.
Puang Yafie menikah di usia 19 tahun, sementara saat itu, Puang Isa berusia 16 tahun.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai empat orang anak, yakni Saiful, Hilmy, Azmy, dan Badru.
“Puang Yafie masuk rumah sakit pada 10 Januari lalu. Sehari kemudian, 11 Januari malam, Puang Isa menyusul,” kata Bambang Wiwoho, seperti dilansir indonesiainside.id, 16 Januari lalu.
Sempat menjenguk Puang Yafie dan istri, di rumah sakit, menurut Wiwoho, keduanya mengalami sakit karena faktor usia.
Puang Isa berusia 88 tahun, sedangkan Puang Yafie berusia 93 tahun.
Puang Yafie dan istri, kata Wiwoho, mengalami susah makan, hingga menyebabkan dehidrasi.
“Setelah ditangani tim dokter, Puang Yafie cepat membaik. Kalau Puang Isa agak lebih lambat pemulihannya,” jelasnya, Kamis (16/1).
Puang Yafie lahir di Donggala, Sulawesi Tengah, dan menjadi tokoh Nahdlatul Ulama (NU) serta pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Darul Dakwah Al Irsyad, Pare-Pare, sejak 1947.
Pada muktamar NU tahun 1989 di Krapyak, Yogyakarta, ia terpilih menjadi wakil rais aam, usai KH Achmad Sidik, wafat di tahun 1991.
Puang Yafie meneruskan jabatan sebagai rais aam PBNU, dan juga menjadi anggota Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI).
Namun, ia mundur dari kepengurusan PBNU, karena adanya perbedaan pendapat.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهاَ وَارْحَمْهاَ وَعَافِهَا وَاعْفُ عَنْهاَ وَاجْعَلِ اْلجَنَّةَ مَثْوَاهاَ. اللّهُمَّ ابْدِلْهاَ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهَا، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا وَأَهْلًا خَيْراً مِنْ أَهْلِهاَ. اللَّهُمَّ إِنَّهُ نَزَلَ بِكَ وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُوْلٍ بِهاَ. اَللَّهُمَّ أَكْرِمْ نُزولَهاَ ووسِّعْ مَدْخَلَهاَ
Laha Al Fatihah :
(Alfin ch)
